08 Desember 2008

KABINET DPW SEKAR PERHUTANI JATIM


Bertempat di Ruang Tectona Graha Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, pada tanggal 15 Oktober 2008, Serikat Karyawan Perum Perhutani (SEKAR PERHUTANI) DPW Jawa Timur melaksanakan Musyawarah Wilayah (MUSWIL) Tahun 2008.

Tema dari Muswil Sekar Perhutani DPW Jawa Timur Tahun 2008 adalah ” Kejayaan Perusahaan dan Kesejahteraan Karyawan Harga Mati !!”

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, Administratur/KKPH Dalam Wilayah Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, Ketua DPP Sekar Perhutani, Perwakilan DPW Kantor Pusat, Perwakilan DPW Jawa Barat & Banten, Perwakilan DPW Jawa Tengah serta perwakilan 29 DPD dalam wilayah DPW Jawa Timur.

Dalam sambutannya Kanit berpesan agar SEKAR selain memperjuangkan hak-hak karyawan juga ikut menjaga eksistensi Perusahaan. Secara legalitas Sekar juga telah diakui oleh manajemen dengan telah ditandatanganinya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Sekar dengan Manajemen Perum Perhutani pada saat MUBES SEKAR ke II di Madiun TH 2007.

Pada kesemparan tersebut pula Kanit II Jatim menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kepengurusan DPW yang lama dibawah komando Andi Adrian Hidayat, yang telah berhasil membina hubungan baik dan kerjasama yang yang konstruktif dengan manajemen Unit II Jawa Timur, sehingga aspirasi karyawan disalurkan dan disampaikan kepada manajemen unit secara santun dan memperhatikan etika kedinasan. Walhasil, suasana kerja di Perum Perhutani Unit II jawa Timur dapat terpelihara dan relatif kondusif dan tenang.

Selain agenda utama pemilihan pengurus baru masa bakti 2008 – 2011, Muswil Sekar DPW Jatim kemaren juga membahas Laporan Pertanggungjawaban pengurus DPW periode 2005 – 2008, serta pembahasan program kerja pengurus DPW 2008 – 2011.

Melalui mekanisme pemilihan Paket Ketua – Sekretaris yang sangat demokratis (melalui musyawarah mufakat tanpa Votting/pemungutan suara) akhirnya terpilih pasangan Mulato Joko – Didiet Widhy Hidayat sebagai Ketua dan Sekretaris terpilih. Adapun susunan pengurus Sekar DPW Jawa Timur Periode 2008 – 2011 selengkapnya sebagaimana rincian berikut :

· Ketua : Mulato Joko (Kasi PSDH KPH Madiun)

· Waka I (Internal) : M. Denny Ermansyah (Kasi RRH Unit II Jatim)

· Waka II (Eksternal) : Suyitno (KSS Pusdiklat SDM Madiun)

· Sekretaris : Didiet Widhy Hidayat (Kasi PSDH KPH Malang)

· Wakil Sekretaris : Muchid (SP Biro Bin & Konservasi SDH Unit II)

· Bendahara I : Tina (SP Biro Keuangan Unit II Jatim)

· Bendahara II : Haryo Winardi (SP Keuanagan KPH Malang).

· Bidang - bidang :

Ø Hub. Antar Lembaga : Suparwo (KSPH III Jombang).

Ø Litbang & Us : Wawan Triwibowo (Kasi Ind Sar Unit II Jatim)

Ø Orgns & Pengkaderan : Adi Winarno (Manager Sar KBM INK Unit II)

- Koreg I Bojonegoro : Khoirul anam (SP PSDH KPH Parengan)

- Koreg II Surabaya : Samar Rusdi (Sp IPKJ Gresik)

- Koreg III Madiun : Pujo Riyanto (Asper pada KPH Lawu Ds)

- Koreg IV Jombang : Koen Rohayudi (SP PSDH KPH Nganjuk)

- Koreg V Malang : Sukirno (SP PHBM KPH Malang)

- Koreg VI Jember : Sukatno (SP PSDH KPH Jember)

- Koreg VII Banyuwangi : M. Ikhsan (KSS KPH Banyuwangi Utara).

Ø Advokasi : Suratno (Kasi PSDH KPH Parengan).

Ø Infokom : Muklisin (SP Biro Unit II Jatim)

Adapun garis-garis besar program kerja dari Sekar DPW Jawa Timur Periode 2008 – 2011 yang merupakan hasil Muswil tahun 2008 adalah sebagai berikut :

1. Bidang Organisasi :

a. Konsolidasi internal

b. Penguatan Organisasi

c. Pemantapan Keanggotaan & Kader

2. Bidang Litbang & Usaha

a. Penelitian dan pengembangan dalam kerangka profesionalisme karyawan & organisasi sebagai mitra manajemen untuk kejayaan perusahaan

b. Kajian & Forum Diskusi SDH & SDM

3. Bidang Infokom :

a. Penguatan komunikasi

b. Penyebaran informasi (bulletin, sarana informasi lain)

4. Bidang Humas dan Hub Antar Lembaga :

a. Mendorong terciptanya Networking Serikat Karyawan / Pekerja / Buruh BUMN Jawa Timur

b. Pembentukan Lembaga Kerjasama Bipartit pada setiap Unit Kerja

5. Bidang Hukum & Advokasi :

a. Pengawalan implementasi PKB secara konsisten

b. Mendorong peningkatan kesejahteraan karyawan dengan menciptakan jaminan bagi perbaikan penghasilan, proporsi struktur gaji, peningkatan status, ketegasan pola karir.

6. Program Khusus :

a. Donor darah

b. Bantuan Bencana

c. Gerakan cinta pohon

d. Santunan solidaritas.

7. Mendukung dan berperan aktif dalam program kerja DPP.

Dalam mengawali program kerja tersebut diatas, DPW Jatim mempunyai program kerja 100 Hari , program tersebut antara lain :

1. Penguatan internal melalui inventarisir ulang anggota dan himbauan segera melaksanakan Musda bagi DPD yang kepengurusannya telah habis masa bhaktinya.

2. Pengawalan peningkatan status karyawan (PKWT ke PP dan seterusnya)

3. Pencanangan Hari Cinta Pohon Pada Tanggal 12 Desember 2008.

4. Simposium tentang kajian kelola SDH dan kelola SDM yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2008 bertempat di KPH Kediri.

Dalam kesempatan tersebut DPW Sekar Perhutani juga memberikan penghargaan Kepada Sekar Perhutani DPD KPH Banyuwangi Utara atas prestasinya dalam lomba penemuan pohon terbesar dalam wilayah Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, pohon terbesar tersebut adalah jenis Randu Alas dengan keliling diatas banir 525 Cm.

Sedangkan Sekar Perhutani DPD Saradan Mendapatkan Perhargaan dari DPW atas prestasinya sebagai juara pertama lomba hubungan industrial tingkat Kabupaten Madiun.

Semoga dengan telah dilaksanakannya Muswil Sekar Perhutani DPW Jawa Timur dapat mewujudkan kesejahteraan karyawan dan mempertahankan eksistensi perusahaan….!

Baca selengkapnya......

30 November 2008

PERHUTANI MENANAM TANPA BIAYA ?

Mungkinkah ? Kenapa tidak ? Sungguh ....ide ini sangat mungkin !

Ketika mendengar ide/gagasan ini terus terang saya juga mengernyitkan dahi. Apa mungkin ? ternyata setelah diberikan uraian yang cukup gamblang oleh Andi Adrian (mantan Ketum DPW 2 Sekar Perhutani) sebagai pemilik gagasan tersebut, pikiran saya menjadi terbuka dan tanpa sadar mengangguk-angguk setuju dengan ide itu. Secara finansial feasible dan secara sosial berdampak positif untuk meningkatkan kewibawaan petugas PHT di lapangan.

Rekan-rekan, pada artikel ini saya hanya akan mereview gagasan pak Andi. Keaslian ide dan versi lengkapnya tentu ada di Pak Andi. Jadi bila ada yang kurang pas dengan aslinya, ya mohon dimaklumi. Dan maaf saya tidak sempat menuraikan detail mencatat angka-angka hitungan finansialnya, karena memang pembicaraan terjadi saat rehat rapat RHL.

Gagasan ini berawal dari latar belakang semakin beratnya tanggungjawab PHT dalam mereboisasi hutan akibat masih banyaknya tanah-tanah kosong (TK) dan keinginan untuk memberikan penghasilan yang lebih layak untuk karyawan (kenaikan gaji maksudnya). Biaya tanaman (biasanya teman-teman suka menyebutnya dengan Rekening 41.3) sangat besar dan pada pos anggaran selalu menyedot cashflow yang sangat besar.

Kebutuhan biaya tanaman yang besar tersebut jugalah yang selalu membuat pening para petinggi PHT untuk membuat perusahaan ini untung dan untuk menaikkan gaji karyawan. Nah, alangkah indahnya jika kemudian biaya tanaman ini dapat ditekan dan kelebihannya bisa dialokasikan untuk kesejahteraan karyawan. Itulah inti dari gagasan pak Andi ini.

Gimana caranya ?

  1. Pada petak-petak rencana tanaman (baik dan teb A, B3 maupun TK) dibuat kerjasama dengan pesanggem untuk penanaman Jagung sedikitnya 2 masa tanam. Waktunya bisa saat pra-tanam atau bisa juga pada tahun berjalan. Kenapa pilihannya jagung ? karena komoditias ini pasarnya masih sangat besar, harga jual cukup baik dan relatif stabil, serta resiko kegagalannya relatif kecil, serta waktu panennya cepat (3-4 bln). Sistem yang digunakan adalah bagi hasil produksi (bukan profit lo ya?).
  2. Biaya pelaksanaan kerjasama jagung 2 musim ini dapat diperoleh bisa dari 2 sumber : yaitu pinjaman murni dari PHT (bisa dari rek 41.3 atau dari rek wanatani) dan dari pinjaman pihak lain. Tapi untuk memperkuat posisi PHT dalam kerjasama ini dan memperkuat kewibawaan petugas, pilihan lebih baik menggunakan alternatif 1.
  3. Dari hasil hitung-hitungan pak Andi, PHT meminjamkan dananya untuk kerjasama ini sebesar Rp. X/Ha kepada mandor tanam dengan perjanjian hutang dengan Adm. Segala resiko penggunaan uang menjadi tanggungjawab mador ybs. Pesanggem bertindak sebagai pelaksana penanaman s/d panen dibawah kendali mandor. Karena mandor sebagai peminjam uang, maka secara moral ybs akan berusaha sekuat tenaga agar tanaman jagungnya berhasil agar bisa mengembalikan pinjamannya. Dengan begitu, peran mandor akan menjadi sangat besar sebagai "pengatur". Maaf...tidak seperti sekarang, banyak mandor yang justru kalah kewenangan dan diatur oleh pesanggem. Maka substansi penguatan fungsi dajn peran mandor tanam dapat berjalan.
  4. Setelah lagi-lagi dihitung pak Andi, dalam 2 kali musim tanam akan diperoleh pendapatan kotor dari hasil penjualan produksi yang terdiri dari : modal pokok biaya produksi + keuntungan. Dan hebatnya dari pendapatan kotor tersebut, setelah dikurangi bagi hasil 40 % untuk pesanggem, mandor mendapatkan 60% ternyata cukup untuk mengembalikan pinjaman mandor tanam ybs ke PHT, membiayai tanaman petak tersebut (rata-rata Rp 1 juta/Ha) dan masih ada kelebihan sebesar Rp. Y ribu/ha (itungannya pak Andi bisa Rp. 500 rb/Ha). Itulah keuntungan bersih mandor tanam sebagai hasil jerih payahnya mengelola kerjasama tersebut. Menarik khan ?
  5. Jadi dalam masa kerjasama penanaman jagung dengan 2 kali masa tanam, dapat diperoleh beberapa manfaat sekaligus, yaitu :
    1. Dana PHT sebagai pinjaman dapat terbayarkan dalam waktu 8 bulan (berati anggaran utuh kembali).
    2. Biaya tanaman dapat tercukupi.
    3. Mandor tanam mendapatkan tambahan penghasilan.
    4. Pesanggem mendapatkan penghasilan (bagi hasil 40%).
    5. Terbangun kembali / menguatkan kewibawaan dan kewenangan mandor tanam di lapangan sebagai full manajer.
    6. Setelah lepas masa kerjasama, pesanggem dapat melaksanakan tumpangsari serperti biasa.
  6. Apakah gagasan ini dapat direalisasikan ? Jawabnya sementara : harus/perlu diuji dulu. Karena tindak lanjut ide ini tidak sesederhana uraian di atas. Kita harus siap SDM mandor tanam (yang benar-benar terpercaya mengelola uang), menata hubungan dengan pesanggem dan pejabat waskat di atasnya, menata kesiapan manajemen KPH dalam hal penggunaan rek 41.3 atau wana tani dan akuntansinya dll. Tapi hal bukan hal yang mustahil untuk dilaksanakan. Tinggal ada kemampuan gak untuk mencoba ?
Sebagai tambahan, ide /gagasan ini telah dicoba disosialisasikan di KPH Mojokerto oleh Pak Andi. Dan respon mandor tanam sangat positif dan antusias. Juga di"sounding" ke Biro Keuangan dengan respon yang positif pula.

Anda ingin mencobanya ? atau minimal mensosialisasikan ide ini ? selamat mencoba di KPH Masing-masing.

Terimakasih buat Pak Andi atas diskusi yang sangat bermanfaat selama pertemuan-pertemuan rehat yang seringkali kita lakukan. Informasi detail mohon dapat dibagi di blog kita ini agar kita semua semakin yakin dengan hitung-hitungan finansialnya dan dapat memberikan karya yang terbaik untuk PHT kita.

Salam Sekar.
DWH (Sekretaris DPW 2)

Baca selengkapnya......